>>
you're reading...
ceritaku, True Story

namanya tak boleh disebut [part 5]

ilustrasi diambil dari gstatic[dot]com

Maaf….

Entah mengapa tulisan tentang cerita ini begitu sulit ku ungkapkan, yah memang sulit, karena ia selalu mengawasiku, selalu, dan selalu,.. ia yang namanya tak boleh disebut tidak menggangguku,… tetapi,.. rasa tidak nyaman ini yang membuatku terganggu,… wajah pucat pasi tanpa hawa kehidupannya seakan menemani setiap spektrum cahaya yang terbaur dan sampai ke mataku,…

ia sampai sekarang masih disini,… dan kini, ia menginginkanku untuk melanjutkan tulisan ini lagi

kilas cerita sebelumnya,…. [part 4]
sambil berbisik kearah ku rahadian berkata
“dia dah hampir kena wa,.. itu dipojok sana ada makhluk besar yang memiliki tanduk tiga, kita harus kesana, sepertinya ada yang membuat kesalahan, aku tak tau siapa yang salah, tapi kita harus kesana, kalau tidak, peserta ini akan benar benar terkena dan mempengaruhi peserta lainnya”
dengan tampang begitu berat akupun menuruti permintaan rahadian dan pergi menuju sumur tua dibelakang kelas kami, tempan semua dimulai,.. harus segera diakhiri,.. semuanya,… semuanya,..
 

Perasaan tertekan,.. seolah olah berjalan di kerumunan padat yang berisi jutaan orang,.. mengiringi langkah kaki kami yang tidak tahu mengapa begitu terasa berat. suara-suara beringsik,.. terus menghinggapi pikiranku,.. tidak begitu jelas suaranya,.. tidak begitu jelas,.. karena begitu ramai,. tanpa teratur,..  hawa dingin yang menyelimuti kulitku seolah membekukanku,. sekali kali kurasakan tekanan yang begitu besar kurasakan,.. tekanan yang membawa kesadaranku beralih lagi kesuatu tempat,… tempat yang tidak begitu jauh,.. tidak begitu jauh,.. dari tempat itu kupandangi tubuhku yang bergerak melambat,.. begitu lambat seolah2 waktu bergerak dengan lambat pula,..

aku benar2 melihat,.. diriku, diriku yang disana seolah membeku,… begitu lambat bergerak,.. dari balik rerimbunan pohon peredu yang tidak terlalu tinggi,.. kudapati tubuhku yang samar samar bersama lampu senter di tengah kegelapan sekolah  bergerak lambat menelusuri kelas dan menuju kearah sumur tua,..

ku limbung akan kesadaranku,.. siapa aku yang melihat diriku,.. atau siapakah diriku yang disana itu,…? yang sedang bersama temanku,.. yang terlihat bergerak menuju sumur tua,.. gerakan tubuhku yang disana itu begitu lambat,

seakan berjam-jam aku terus mengamati pergerakan tubuhku yang disana itu,… setelah sekian lama ku amati dengan perlahan dan sangat perlahan tubuhku yang ku pandangi dari tadi memandang kearahku,..

dan secara tiba tiba kudapati diriku sedang berada didepan kelas berjalan kearah sumur sembari melihat pohon peredu,.. sekilas ku lihat,.. gadis manis berwajah pucat pasi sedang memandangku,… memendar dan dengan cepat menghilang,…

“jangan kesana”
tiba2 dalam pikiranku terbesit kata seperti itu,..

“wak,.. agaknya kita gx perlu kesana deh” kata rahadidan dengan wajah khawatirnya,..
“aku harus nyari teman kami yang hilang” sahutnya lagi,…

akhirnya kami urungkan niat kami untuk melihat sumur tua,..
aku kembali kekelas, dan disana kudapati di tengah nyala redup lilin mereka sedang membaca kitab2 mereka masing-masing,… lantunan merdu,.. dan menyejukkan sedikit mengurangi kegelisahanku,..

desir angin lembab yang menekanku begitu dalam seakan melambungkan kesadaranku terus melayang,.. aku duduk berimpuh dihadapan peserta diklatku yang wajahnya semakin mengkhawatirkan,.. pucat dan begitu dingin,… telapak kakinya yang dingin berusaha ku hangatkan dengan tanganku ,… dan kusadari juga tanganku sama sekali tidak hangat,..dinginnya tanganku juga tidak terlalu jauh dengan peserta itu,…

ku begitu khawatir jika peserta itu kenapa2,.. atau kehilangan kesadaran dan memberi dampak berantai pada peserta lainnya,.. yah,.. itu yang kutakutkan,..

wajah yang semakin pucat terus menginduksi ku dan membawaku kelevel tak berdaya,..
beberapa panitia ku suruh melaporkan ini ke pihak panitia inti diklat dan guru,.. tetapi,. mereka tak kunjung datang,..

dengan maksud agar sedikit ku kipas2 peserta itu dengan kertas karton dan sambil berkelakar,.. “jarang2 kan liat senior ngipasin juniornya”

senyum lirihnya sedikit menenangkan hatiku saat itu,… tetapi dia tetap terlihat begitu pucat dan menangis,… aku meminjam hp temenku untuk sms bapakku yang kebetulan juga guru di SMAku,.. tetapi sedang berhalangan hadir karena ada rapat bulanan RT di Rumahku,…
“bapak,.. tolong aku,.. salah satu peserta yang beragama hindu hampir kesurupan,.. ku gx tau gimana ngatasinnya”

tiada balasan dari bapakku,..
dengan wajah penuh kepasrahan,.. kurasakan diriku mulai tenggelam,.. kesadaranku sedikit demi sedikit mulai memudar,…

sambil ku pegang telapak kaki peserta itu,.. dengan begitu perlahan,.. waktu seakan bergerak dengan lambat,.. dan ruangan terasa begitu kosong dan gelap,.. mataku yang mulang meneteskan butir butir kepiluan dan kepasrahan,… mengiringkan bibir dan hatiku untuk mengatakan
“Ya Tuhan,.. jika ini memang kesalahanku,… aku minta maaf,.. dan aku pasrahkan semua ini kepadamu,.. tolong aku Tuhan,… tolong aku”

Sambil meneteskan air mata kurasakan waktu bergerak semakin  melambat,… tetapi begitu nyaman,.. nyaman,..kurasakan rintikan air yang begitu segar,.. seakan mengandung soda,… bahkan lebih segar lagi mengglayuti ujung jemari kakiku,… ku tidak bisa menggambarkan sensasi yang teramat sangat damai itu,… gerakan waktu yang lambat begitu terasa olehku,… getaran2 getaran kecil dari ujung-ujung jemariku terasa begitu mendamaikan terus menjalar dengan perlahan nenelusuri tiap senti tubuhku,… getaran itu begitu sejuk,.. sesejuk embun pagi,… embun pagi di pegunungan,… begitu damai,… seolah olah,.. tubuhku berada dalam pelukan orang tua yang sangat menyangiku,.. kasih sayang pelukan itu begitu damai terasa

getaran itu terus naik dan mencapai ujung kepala dan tanganku yang sedang memagang kaki peserta itu,.. mataku yang terpejam tiba2 merasakan ada suatu cahaya yang teramat terang,… dan teramat terang, terang yang terus mambawaku kearah kedamaian,.. yang brgitu indah,..

dan seketika itu pula lampu sekolah kami hidup,…

terdengan ucapan sukur dari bibir para peserta dan panitia,.. hanya aku dan peserta yang hampir kesurupan itu saling berpandangan,..

aku terdiam begitu lama memikirkan dan terheran2 tidak mengerti dengan sensasi yang kurasakan,…

akupun bertanya pada peserta itu,..
“sudah baikan,…??”

tetapi belum sempat terjawab peserta itu sudah ditunggu beberapa dewan guru dan panitia inti,..
kulihat sekilas ada senyum terang terpancar melalui wajahnya yang tidak pucat lagi,..

beberapa saat kemudian para peserta pun di mobilisasi ke dekat api unggun,.. hanya aku dan beberapa teman yang tinggal dikelas,..

dan kepada salah satu panitia itu,.. yang kebetulan teman yang pernah aku ajak berkeliling saat malam pertama

“kita harus minta maaf ke seluruh tempat angker yang ada di sekolah” kataku dengan yakin
kata2 itupun membimbingku dan temanku itu,.. kearah sisi gelap sekolah kami,..
sisi gelap yang dengan takabur kami lawan dan kami tantang terdahulu,..

dan tentunya dengan dia,…
kudapati aku berada didepan tubuhku saling berpandangan ,… dengan waktu yang bergerak lambat,.. akhirnya kudapati kesadaranku dalam tubuhku lagi,..

didepan kulihat wajah cantik pucat dan pandangan kosong dengan senyum kecil misterius berbalut jubah putih samar,…

yah dialah yang namanya tak boleh disebut,.. dalam hatiku ia berkata
aku kan selalu bersamamu,…

tiba tiba kesadaranku berpindah lagi kesamping,.. kudapati tubuhku menoleh kehadapanku,… dan tersenyum,..

dalam hatiku terdengar suara sayup sayup merdu,..
“coba tebak berapa ratus atau berapa ribu dari mereka yang kau buat marah dengan ketaburanmu kemarin,…???”

tanpa berpikir panjang kamipun melangkahkan kami menuju tempat2 angker di sekolah kami berdua bertiga,… bersama sosok yang namanya tak boleh disebut itu,…

[bersambung]

baca juga kisah2 sebelumnya di sini

Advertisements

About dewa putu am

I'm a agro meteorologist. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe I like studying too hehehe but I lie.

Discussion

4 thoughts on “namanya tak boleh disebut [part 5]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IdWordpress
Warung Blogger

Blogger Hebat

Posting2 si Anak Angin

%d bloggers like this: