>>
you're reading...
atmos, buah pikir

ini cerita ‘pahlawan’ tentang hujan hari ini

pesan dari masa lalu

pesan dari masa lalu by: dewa 2013

hai,..
hari ini hujan datang lagi menghampiri kota ini, rintik-rintik tangisan mulai berjatuhan dari langit.
langit yang menampakkan rona gelisahnya. rona yang saat lalu  bersemangat membakar kulit, kini berubah  menjadi rona yang sarat akan kesedihan.

dalam bayang , tampak seorang anak kecil menatap keatas dari sebuah jendela yang berdebu, melayangkan lamunan kearah langit yang sedang bersedih itu.

dalam matanya yang dalam dan sayu, ia menatap terus langit dan melayangkan jiwanya kesana. begitu nyata perjalananya hingga tak terasa lagi angin yang membelai kulitnya.

ia terus melayang kearah langit yang bersedih itu dan lalu menyatu dalam sensasi kelam langit, kesedihan, kekecewaan dan rasa yang tidak nyaman. hawa langit yang dingin dan begitu menusuk disertai hinar binar cahaya kilat yang hanya mampu menerangi kelamnya langit itu beberapa menit,…. lalu kelam lagi.

dalam cahaya kilat terlihat terlihat bayangan sesosok manusia yang tak kalah kelamnya dengan langit.

yah itulah sang pemilik perasaan kelam dan sedih yang di hamburkan oleh partikel langit.
anak kecil itu tahu persis langit takkan pernah kelam dan bersedih,…
perasaan sesosok manusia dalam bayangan itulah yang sendari tadi yang mengusik dan beresonansi dengan hati sang anak kecil itu. langit memang tak pernah bersedih.

“Hei,.. kakek, kenapa kau bersedih, hari ini kan hari kalian,… hari para pahlawan?” tanya anak kecil itu namun sosok itu tidak menggubris sama sekali

“hei, kakek apakah dirimu kecewa terhadap kami, kecewa karena kami tidak mampu menjaga tumpah darahmu ini?” tanya anak kecil itu lagi

dan kali ini sosok itu tersenyum kecil dan mulai mendekat…, kini terlihat wajah kusam penuh guratan getir kehidupan serta penderitaan yang mendalam dari sosok itu, sosok itu mulai mendekat dan dengan perlahan mendekat dan duduk dekat sosok anak kecil itu. dan sambil tersenyum ia berkata

“cucuku,… cobalah  lihat kebawah itu, cobalah lihat disana ada tumpah darah kami,… itu tumpah darah kami yang kami percayakan pada kalian,… kami percayakan pada kalian, dari awal kami berjuang hingga saat kami hanya bisa menatap dari atas sini…., kami percaya pada kalian sepenuhnya, karena kalian adalah cucu kami, itu tidak berubah hingga kini “

” apakah dirimu berpikir kelamnya langit ini wujud dari penyesalan kami karena telah mepercayai tumpah darah kami pada cucu2 kami? itu salah cucuku yang manis” katanya lagi, sembari megusap tangan hangatnya kekepala si anak kecil itu.

” lalu kenapa langit ini memantulkan rasa penyesalan dan kesedihan yang begitu dalam? bukankah ini perasaan dirimu yang dibiaskan langit?” tanya anak kecil itu polos.

The Grandfather and Granddaughter on the way back from a village fair (source Biswarup Sangkar) click gambar untuk melihat sumber asli

“Tidak,.. itu hanya proses alam yang biasa terjadi dan kebetulan dihari pahlawan, kalau boleh kami malah ingin cuaca yang cerah dan berpelangi menghiasi hari pahlawan ini”

“tidakkah kamu menyesal melihat tanah tumpah darahmu di porak porandakan oleh korupsi, kejahatan dimana-mana, banyak ketimpangan sosial, diinjak2 bangsa lain dan paling parahnya lagi apakah kamu tidak merasakan sedih ketika melihat banyak dari kami sudah tidak peduli lagi dengan masa depan tumpah darahmu ini??” tanya anak kecil lagi dengan suara yang lantang seolah ingin menangis

“Itu, tugas kalian cucuku,…. yang jelas kami percaya pada kalian sepenuhnya,.. kami percaya kalian akan membawa tumpah darah kami kedalam cita-cita kami. ingatlah semua hal butuh proses, jangan terus menyesali apa yang sudah terjadi, lakukanlah yang terbaik untuk negri ini. dan ingat lah kami selalu percaya pada kalian,…….. yah kalian cucu-cucu kami 🙂 ”  kata sosok tua itu sambil tersenyum dan beranjak pergi meninggalkan anak kecil itu sendiri,.. dan menghilang dalam gelapnya langit.

anak kecil itu bangkit dari lamunannya dan mulai merasakan kembali hangatnya angin yang menyapu kulitnya. sambil tersenyum ia berkata

“Terimakasih kakek, karena telah percaya kami,… lihatlah kami dari sana, dan berikan senyum terindahmu pada kami, dan kami akan berlari menuju cahaya kecil yang didepan itu dengan memggenggam memori tentang dirimu dalam bayangan teduh merah putih”

“selamat hari pahlawan kek :)”

Advertisements

About dewa putu am

I'm a agro meteorologist. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe I like studying too hehehe but I lie.

Discussion

21 thoughts on “ini cerita ‘pahlawan’ tentang hujan hari ini

  1. tulisannya bagus banget 🙂

    Posted by nyonyasepatu | November 10, 2013, 4:42 pm
  2. Yaa..itu tugas generasi penerus
    melakukan yang terbaik untuk bangsa
    Selamat hari pahlawan 🙂

    Posted by azmiya | November 11, 2013, 8:02 am
  3. kita mungkin butuh pahlawan yang berpikir untuk mensejahterakan orang di sebelahnya. pemimpin2 yang berjanji mensejahterakan seluruh rakyat justru hanya sibuk mensejahterakan dirinya sendiri. selamat hari pahlawan. semoga Indonesia lebih damai dan sadar akan keindahan yang dimilikinya sendiri.

    Posted by Ilham | November 11, 2013, 9:06 am
  4. Wah bagus kak..
    so touched :’)
    perasaan aku blm berbuat banyak buat memaknai hari pahlawan ini 😦

    Posted by sakura suri | November 11, 2013, 9:52 am
  5. petuah kakeknya bagus sekali mas 🙂 apa kakeknya dulu sempat terlibat masa perjuangan?
    selamat hari pahlawan..

    Posted by Tina Latief | November 11, 2013, 5:06 pm
  6. so inspiring….
    nyalahin dan ngeluhin kondisi sakit ibu pertiwi emg cuma bisa miris dan perih aja…. hikkssss….
    harus banget ngelakuin sesuatu dari diri sendiri walau dari kecil, utk bs ikut merubah,
    harus terus memperbaiki diri, belajar dari orang2 yg menginspirasi, dan selalu dekat dgn sang Khaliq…
    *walk the talk*

    Posted by asiasari | November 11, 2013, 9:31 pm
  7. Semoga kita tidak mengecewakan para pahlawan

    Posted by putrijeruk | November 12, 2013, 7:41 am
  8. Good writing. Tapi masih perlu diedit tata penulisannya..Selamat Hari Pahlawan (telat) 😀

    Posted by Dwiyanti Kusumaningrum | November 12, 2013, 10:31 am
  9. “Akhirnya ada yang baca juga” – kata dewa di sebelah gw :p
    wkwkkw

    btw
    Penerus itu bykan cuman yang muda2 aja, yang tua2 juga terus dukung dong.

    The young fights
    The old support

    Posted by Bayu Bramantya | November 12, 2013, 10:54 am
  10. inspiratif mz, nice.
    smg negeri ini bs berbnah menuju k arah yg dicita citakan.

    Posted by kasamago | November 15, 2013, 3:37 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IdWordpress
Warung Blogger

Blogger Hebat

Posting2 si Anak Angin

%d bloggers like this: