>>
you're reading...
profilku

Waktu itu

peternak ayam

peternak ayam

Aku menatap kearah luar dari jendela kamar kosanku yang berdebu. Menatap sebuah bayangan yang tidak ada didepan, menelusuri kenangan dibalik ranting kecil. Lama kumemandang, perlahan lahan dan sayup sayup ranting kecil itu membawaku kembali kedalam sebuah kenangan.

Mataku melihat kesekitar yamg bukan lagi yang tadi, ruang kamar yang berserakan benda khas anak kos kini berubah. Berubah menjadi kondisi kelas ber bangku merah.

Ku memandang sekali lagi kearah sekitar, situasi yang pernah ku kenal. Bangku merah penuh tulisan bulpoin dan tipex. Papan tulis kapur berdebu dan lantai semen yang beberapa sudut sudah bolong. Dan tentu kaca jendela yang baru saja pecah karena terkena bola disaat istirahat.

Kuperhatikan baik-baik lagi jemariku yang kini menciut, dan tinggi badanku pun kurasa hanya 115 cm. Dan saat itu baru kusadari aku kembali ke waktu itu.

Kulihat awan mendung, yang mengantarkan butir butir hujan yang dengan semangatnya berjatuhan.
semakin lama semakin gelap. Menggelap dan memakan cahaya yang tadi membantuku melihat dedaunan.Detub jantungku kurasakan begitu nyata. Perasaan takut ku berkecamuk ketika cahaya mulai ditelan oleh gelap saat mendung, menghilang dan semakin menghilang seolah menggoreskan perihnya kemalangan.

Aku merasa takut akan kegelapan, dentuman dentuman keras datang bertubi tubi, ranting ranting petir yang mengerikan pun mulai bermunculan silih berganti menghiasi langit. Bersamaan dengan banyaknya suara dentuman keras itu dentuman dalam jantungku pun semakin cepat, keringat membasahi keningku.

Kulihat beberapa temanku satu persatu dijemput orang tuanya, ada juga yang pulang sendiri berjalan beramai ramai di bawah payung. Mereka tersenyum dan menari nari dibawah hujan sambil sekali kali memainkan payungnya agar teman mereka terbasahi.

Sambil tersenyum simpul ku melihat mereka dan berkata “dasar anak sd”

Kilat yang bersuara lantang kembali menghujamkan pedangnya kearah gendang telingaku dan entah mengapa sampai tembus ke jantung. Seketika itu juga mata yang tertanam pada tubuh kecil ini menyiratkan air mata ketakutan. Air mata yang menyuratkan dengan jelas akan rasa takut dan kesepian.

Kulihat kesembarang arah masih beberapa teman yang bergerak perlahan menunggu redanya sang hujan. Dengan secepat kilat kuhapus air mata itu dan dengan senyum aku memandang mereka danbercanda alakadarnya untuk menutupi rasa takut akan hujan. Rasa takut yang ku sembunyikan jauh didalam hati perlahan ku sembunyikan dalam senyum.

“wa,.. Ayuk pulang,..” terdengar suara yang sangat aku kenal, tak jelas sosoknya karena ditutupi oleh jubah hujan yang panjjang. Aku mendekatinya dan tersenyum. “Hayuk, tapi kok gak bawa payung, terus aku gimana pulangnya pak”

” ayuk naik kepunggung bapak, biar bapak gendong anak bapak yang pinter satu ini” katanya sambil melayangkan senyum ringan

“aku uda gede pak, masak masi digendong”

“hahahaha ayo cepet ibuk udah buat masakan enak tu dirumah”

Mendengar itu pun aku berlari dan lompat kearah pundak ayahku, air mataku ku sembunyikan dari tadi akhirnya menetes dan tersenyum tenang memeluk ayah di dalam sebuah jas hujan.

Ayahku mulai melangkahkan kakinya menembus hujan. Kudengar hujan dan petir menjadi begiu syahdu.

Tiba tiba ku kembali dalam kesadaranku dan menuliskan kata

“Bapak,… Ibuk,.. maret ini anakmu ini akan pulang”

Yah saat itu ku suka hujan, karena saat hujan ku merasakan ayahku datang menjemputku pulang untuk menik mati masakan ibu dirumah

Itu alasan yang sederhana kenapa ku suka hujan

Advertisements

About dewa putu am

I'm a agro meteorologist. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe I like studying too hehehe but I lie.

Discussion

10 thoughts on “Waktu itu

  1. masa kecil adalah masa indah tak tergantikan.
    sedikit obat saat mudik melepas kangen pun masih kurang,
    waktu itu (kita) semua suka hujan…

    Posted by lazione budy | February 25, 2014, 1:08 am
  2. Writing a background reason from the inner of someone is always interesting, isn’t it. It helps human to understand each other — especially with its beautifully wrapped with remarkable words and sentences.

    Sometimes, we can’t judge something by its cover. But even a simple story, a simple fact — such as liking rain –, wrapped in a unique and thoughtful text is always a beautiful way to know people.

    #sori rada ngaco commentnya — intinya : menarik untuk dibaca hoho

    Posted by Antony Schneider | February 25, 2014, 7:11 pm
    • I agree with you. I think there are many unique and interesting story for any event or any thing else (such as why we love rain, why some one hate it, etc)

      And knowing about it can give us apa ya, pokoke asik aja

      Makin ngaco balesannya hehehe
      (salam kenal bang antony)

      Posted by Dewa Putu A.M. | February 25, 2014, 10:02 pm
  3. suka!!
    menyentuh seperti biasa, walau dgn gaya yg spt bukan dewa
    kali ini rasa syahdu yang penat oleh rindu
    di ujung pelangi februari, menanti sebulan lagi, dan kamu akan kembali
    *ikut2an sok puitis hehehe ;p

    Posted by asiasari | February 26, 2014, 1:43 am
  4. Senangnya punya masa SD bahagia, jadi teringat masa SD saya dulu. Pulang pergi ke sekolah jalan kaki dari SD hingga MA, tidak pernah ada orang tua yang menjemput atau menemani. Datang di sekolah dan rumah baju seragam pada basah semua karena keringat. Jika saya main film dan harus mengeluarkan air mata mungkin kenangan ini dapat saya jadi kan buat pemicu agar saya meneteskan air mata.

    Posted by jayputra9 | March 2, 2014, 2:12 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IdWordpress
Warung Blogger

Blogger Hebat

Posting2 si Anak Angin

%d bloggers like this: