>>
you're reading...
atmos, buah pikir, Isi Otak, kisah atmosfer

Terompet Sangkakala?

d71e9-11287901_1685081381719718_697586809_n

Langit

“Wak wak, tau kaga sekarang lagi heboh hebohnya terompet Sangkakala looo..!!” kata seorang teman sambil jelalatan liat orang orang yg lagi lewat. yup, itu kata kata temenku saat menikmati eskrim bertiga di salah satu sudut kecil Yogyakarta. Huehehehe jujur si ku kaga tau apa itu yang dimaksud suara terompet sangkakala. Ada yg bilang itu terompet yang di bunyikan saat dunia mendekati waktu kiamat.!!! hwooooo horror bgggggtttt kalo bener gituuuu… Karena penasaran ku coba cari n denger  suara suara yang di upload di Youtube dengan kata kunci “terompet sangkakala”. Ada sesuatu yang menarik bila ku lihat dan dengar secara sekilas. “Yups hanya secara sekilas,” Bila kita lihat video-videonya kita akan dapatkan bahwa kondisi atmosfer sekitar dalam keadaan (Ada yang bersalju, ada yang berawan tebal mendung mendung romantis, ada yang cerah cerah merona). Lalu bila kita dengar suaranya kayaknya ada yang nadanya tinggi banget ada juga yang rendah banget. itu sih yang ku tangkap secara sekilas. Melihat semua itu ku jadi ingat suatu konsep dalam buku Tipping point karya Malcolm Gladwell. Konsep yang ku maksud adalah konsep  “The power of context” yg intinya sifat manusia itu sensitif dan sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitarnya. Ku melihat kalo sifat itu kaga hanya berlaku buat manusia, tetapi juga berlaku umum… termasuk suara suara yang disebut sebagai terompet sangkakala itu. Sekarang kucoba mau menjelaskan hipotesisku dari sudut pandang anak meteorologi.

  • Kita hanya dapat menangkap suara 20-20000 Hz, dengan kata lain suara suara diluar rentang itu tidak mampu kita dengar.
  • Bumi kita sebenernya mengemisikan gelombang akustik dengan berbagai frekuensi, deburan ombak, angin yang meniup dedaunan, letusan gunung, petir, bahkan bisiik pasir merupakan beberapa contoh suara di bumi yang bisa kita dengar karena masih dalam rentang frekuensi yang dapat kita dengar. Sebenernya masih banyak suara suara yang ada di bumi atau lingkungan sekitar kita, namun tidak dapat kita dengar karena frekuensinya berada diluar rentang frekuensi kita.
  • Kalo di tipping point disebutkan bahwa “sifat manusia itu sensitif dan sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitarnya. ” begitu juga dengan gelombang suara, doi terpengaruh juga dengan adanya kerapatan media perambatannya yang dalam hal ini udara. Gelombang bunyi berfrekuensi rendah akan meningkat frekuensinya di medium yang rapat sedangkan gelombang berfrekuensi tinggi akan direndahkan frekuensinya medium renggang. Contohnya coba di tutup teling kalian dengan tangan, ntar ada suara seperti deburan ombak, suara itu menurut saya sih merupakan suara udara sekitar yang sudah berubah frekuensinya, kita juga bisa denger lebih kuat saat malam hari selain noise yang sedikit pada malam hari, udara malam juga lebih padat.  hmmm kalo ada yang salah mohon dikasi tau yaaaa 🙂 Ku mau kasi contoh lain, coba kalian balap lari dengan temen2 kalian di atas pasir pantai dan menuju air laut, tapi lomba larinya kasi jarak masing masing org 5 meter, ntar ya jarak kalian akan semakin pendek ketika udah masuk air laut (terjadi perubahan densitas lingkungan kalian yang awalnya udara biasa, lalu masuk ke air).
  • kecepatan pada gelombang suara berubah di berbagai kondisi suhu udara (sumber gambar: wikibooks[dot]org)

  • Dari logika logika tersebut, dapat saya katakan bahwa suara itu sebenarnya sudah ada tetapi tidak mampu kita dengar karena berada diluar jangkauan frekuensi pendengaran kita. bila ternyata sekarang dapat kita dengar dengan jelas, itu  akibat kondisi ekstrim pada atmosfir. Hal ini dapat terlihat dari video video mereka yang menampilkan wilayah bersalju, mendung dan panas terik. Kondisi ekstrim itu menyebabkan densitas udara sekitar berubah drastis. Pada saat bersalju, atau mendung, densitas udara menjadi tinggi sedangkan pada saat panas densitas udara semakin rendah. perubahan densitas udara menyebabkan banyak gelombang akustik akan berubah frekuensinya. Jadi suara suara yang sebelumnya tak terdengar oleh kita jadi terdengar oleh kita.  Suara suara seperti ini mustinya sih memiliki frekuensi yang dekat dengan ambang batas pendengaran kita atau dengan kata lain suara itu seperti suara terompet yg ada di yutube2 itu kalo g frekuensi tinggi bgt ya frekuensi rendah bnget.

profil anak angin avatarItu hipotesisku, tapi jgn terlalu percaya ya soale blom ku lakuin percobaan percobaan untuk nguji hipotesis di poin terakhir. Asal dari suara itu ku juga kaga seberapa paham, bisa jadi berasal dari kerak bumi, atmosfer, gelombang dari luar angkasa atau bahkan berupa hasil resonansi dari gelombang gelombang tadi. hehehehe intinya ku cuma tertarik sama proses meteorogis kenapa suara itu terdengar

“Dan mungkin saja suara itu berasal dari bumi kita, Bumi kita yang sudah lelah melihat polah tingkah kita yang semakin lama semakin melupakannya.”

Advertisements

About dewa putu am

I'm a agro meteorologist. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe I like studying too hehehe but I lie.

Discussion

9 thoughts on “Terompet Sangkakala?

  1. good point!

    Posted by febri | May 28, 2015, 12:05 pm
  2. Jadi, teknologi di handphone, smartphone ataupun alat perekam itu sama dengan yang ada di telinga manusia ya? Karena suara yang diupload itu kan diambil lewat alat perekam. Hehe

    Posted by N. Firmansyah | May 28, 2015, 11:15 pm
    • penerima akhirnya yg sama :). kan yg denger akhirnya juga telinga manusia.

      ku g tau si spesifikasi rentang suara yang bisa diambil sama alat perekam. tapi ku pikir rentangnya lebi gede dibanding rentang suara yg bisa ditangkep manusia.

      sebesar apa rentang suara yg berhasil didapet n di upload tetep kita cm bisa dnger 20-20rb aja.

      Posted by dewa putu am | May 28, 2015, 11:42 pm
  3. wow.. hipotesa yg bagus… walaupun memang harus dikaji lebih dalam lagi ya Masbro,

    Posted by So Chen | June 5, 2015, 6:34 am
  4. Waw… artikel yang menarik…
    blognya juga bagus nih,, Salam Kenal.. 🙂

    Posted by RahmanHistory | July 3, 2015, 9:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IdWordpress
Warung Blogger

Blogger Hebat

Posting2 si Anak Angin

%d bloggers like this: