>>
you're reading...
buah pikir, Isi Otak

Terlatih untuk “selalu” menang

Kemenangan Segalanya

Beberapa anak kecil jongkok melingkar di atas tanah berdebu dan serasah dari guguran daun pepohonan yang mengering di musim kemarau. Serasah daun seolah meredam teriak teriak berfrekuensi tinggi sekelompok anak kecil yang berjongkok melingkar itu. Teriakan mereka sayup sayup naik turun seolah sekelompok orang dewasa diluar sana yang sedang bersorak sorak mendukung tim bola dukungannya, pembalab dukungannya, petinju dukungannya, atau juga pemakan kerupuk dukungannya.

“Ayoooo eduarrddddoooo ayooo Eduardoooo kalahkan fulgoso kalahkan Fulgosooo kalahkan juga Ponijaaan, ayooo Ponijan banting fulgoso dan penggal kepala erduardo”. Erduardo pun menang mutlak dengan kondisi kaki dua kaki hilang babak belur tanpa berlumuran darah. Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan pihak yang kalah, Fulgoso dan Ponijan. Kepala mereka terpotong danmengelinding beberapa mili meter dari badan mereka. badan hancur dan kaki kaki mereka bercerai berai membaur bersama debu dan serasah.

“Hahahaha ku menang…………….” teriak musa si anak kecil berbadan kecil dengan mata mata terbinar ia mengangkat tangan kegirangan sambil mengibar ngibarkan bendera yang dibuatnya dari baju munyilnya di batang bambu. “Merdekaaaaaa,….” teriaknya lebih girang lagi, sambil sekarang lompat lompat kegirangan. Saking girang nya ia ingin melompat lompat, tetapi belum sempat melompat ada suara

“Bro,.. ku juga sekarat nih”

Anak anak kecil itu tiba tiba terdiam membeku seolah tersihir oleh suara yang barusan terdengar dalam kesunyian ranting ranting dan debu. Tiba tiba suara itu muncul lagi “Kenapa kalian malah diam?” anak anak kecil itu tetap sunyi dan membeku. Suara itupun muncul lagi “Ini aku Erduardo, sang jangkrik pemenang”. Anak anak kecil itu tetap terdiam, namun beberapa detik kemudian mereka serentak mengangguk kecil dan berdiri.

“Dasar JANGKRIK Silumaaaaan..!!!” serempak anak anak kecil itu menginjak injak jangkrik malang itu hingga berkeping keping benar benar menyatu bersama debu dan serasah. Setelah puas, anak anak kecil itupun pergi meninggalkan remah remah yang tadinya tiga dikenal sebagai tiga ekor jangkrik yang baik dan bersahaja oleh masyarakat perjangkrikan distrik kebun singkong bagian barat sungai pengabuan. sayup sayup terdengar anak anak kecil itu berbincang bincang. “huahahaha tadi jangkrikku kan yang menang” “hueee licik, jangkrikmu kan siluman, ini gak adil” “enggak bisa dong sekali menang ya menang lah” “eee gak bisa lah” dan suara anak kecil itu perlahan menghilang bersamaan dengan hilangnya anak kecil itu

mafia emoticonHuehehehe intronya cukup kejam yaa. Dari intro diatas sebenarnya saya ingin sedikit menggambarkan hmmm meski kayaknya rada menyimpang ya dari quote “there is no glory in war”. Sebuah quote yang saya ambil dari film yang beberapa hari yang lalu saya tonton “Battle of Surabaya”.

Beberapa hari ini saya melihat beberapa kisrih (kalau tidak mau dibilang kisruh) di media sosial, di berita berita online, di grup wasap di tv dkk. kebanyakan dari berita berita itu intinya “inii salah merekaaa bukan kami, liat itu koprol, liat sana juga ndelosor. hahaha bukan urusan ku, ini salah ranting yang bergoyang seenaknya, susur saja sungai ini dengan rakit dan dinamit, dia yang duluan bukan saya. ini berkat usaha saya, yang ini jelek, sini kalau berani debat secar terbuka dengan saya, berdasarkan pasal ini kami boleee” Beberapa kata diatas sengaja saya miringkan dan beri warna abu agar di baca secara perlahan, mungkin ada yang tersentil huehehe.

Kita terlatih untuk “selalu” menang

Dari kecil bahkan dari lahir kita dilatih untuk “selalu menang”. Yup, dilatih untuk selalu menang. Kekalahan, mengaku salah, dan meminta maaf seolah menjadi tiga kata kata nista yang perlu sekuat kuatnya kita hindari dari kehidupan kita yang luar biasa ini. Kehidupan sempurna “tanpa kekalahan”.

Apa salahnya kalah? apa yang berkurang darimu bila mengaku salah? apakah hargadirimu akan runtuh saat meminta maaf? Dari pada menghabiskan energi untuk menyangkal dan melakukan pembenaran, lebih baik energinya digunakan untuk akui, minta maaf, simpan sebagai pelajaran dan mulai melaju lagi kedepan. Itu sih yang saya pelajari dari buku “Yoga sutra Patanjali” karya Anand Krishna.

Bila ada kesalahan dalam tulisan maupun penulisan saya, saya mohon maaf ya, itu murni kesalahan saya dan bukan anda sebagai pembaca 🙂 udah, itu saja dari saya sekian dan terimakasih, oia ku akhiri dengan pesan dari bpak ku ya, yang sampe saat ini berusaha saya pegang

“Kamu tidak perlu jadi yang terbaik, cukup jadi salah satu diantara yang terbaik” (Bpakku 1990)

salam :dewa putu am…

Advertisements

About dewa putu am

I'm a agro meteorologist. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe I like studying too hehehe but I lie.

Discussion

8 thoughts on “Terlatih untuk “selalu” menang

  1. like,,, mengalah bukan berarti kalah

    Posted by Dewi | August 25, 2015, 2:08 pm
  2. tiga kata-kata nista yang sulit dilakukan karena sudah terlatih untuk ‘selalu’ menang.
    ya menang.
    mau menangnya sendiri.. ._.

    Posted by Suci Su | August 25, 2015, 8:38 pm
  3. kisrih -_-
    hahahaha
    jadi ini cerita di balik gambar itu :))

    Posted by Dwiyanti Kusumaningrum | August 26, 2015, 7:22 am
  4. sebagai pembelajaran untuk kita ketika kelak jadi orangtua ..

    Posted by putrijeruk | September 25, 2015, 12:54 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IdWordpress
Warung Blogger

Blogger Hebat

Posting2 si Anak Angin

%d bloggers like this: