>>
you're reading...
ceritaku, True Story

cerita pencopet yang masih baik hati

image

2 copet dan korbannya

Saat paling tak aman itu muncul disaat kita terbiasa merasa aman”. Cara pikir inilah yang cukup saya yakini sejak dulu. Tapi kemarin subuh saya secara tidak sadar telah melupakan hal itu, dan akibatnya saya mendapakan pengalaman yang mungkin sulit untuk saya lupakan.

Seperti biasa, buah dari karma memang selalu datang kepada saya dengan tempo yang sangat singkat.
Beberapa jam sebelum kejadian saya bersama teman saya sedang berkumpul sembari nonton dan makan malam  di sebuah mall agak dekat kebun binatang Ragunan. Saya lupa kami membahas apa saat itu, tetapi salah satu teman saya kemudian bertanya “dot, qe gak takut kan pulang sendirian ke Lampung” saya menjawab “hahahaha,… preman gini mah sudah biasa bertualang sendiri, sante laah” terus temanku yang lain menimpali “preman apanya, wong kalo barangnya diambil orang, pasti lu diem aja”. hmmm pembicaraan kami saat itu sih,.. saya lupa bagaimana persisnya, tapi poin poinnya ya,.. kurang lebih sama dengan yang saya tuliskan diatas. Sampai di situ beberapa jam kemudian paket buah karma pun datang dalam tempo yang tidak pernah saya duga

Dompet saya kecopetan di terminal pelabuhan merak pada subuh tanggal 4 April kemarin. Ada hal yang menarik terjadi saat saya ke copetan dompet hingga kemudian saya berhasil dapatkan dompet itu kembali dari sang pencopet, mungkin dari kejadian ini dapat kita jadikan pelajaran bagi saya, (mungkin suatu saat saya membaca lagi tulisan ini) atau mungkin berguna bagi kalian saat mengalami hal yang sama.

Waktu menunjukan pukul 2 dini hari, saya mengetahui saat itu jam 2 karena ada seseorang sedang modus modusan dengan seorang gadis di belakang saya sambil menanyakan jam, oke itu bukan hal yang penting.
Sesampai di terminal bus pelabuhan Merak saya langsung turun dari bus melalui pintu belakang. Seperti biasa beberapa penumpang yang turun langsung dikerumuni para kernet maupun supir yang menawarkan tumpangan bus mereka menuju daerah di pulau Sumatera, begitu juga dengan saya. Saat itu ada seorang bertubuh besar yang terus mengikuti saya dan menanyakan arah tujuan saya, karena sudah terbiasa bolak balik Jawa-Sumatra melalui Pelabuhan Merak dan Bakau Heni saya pun dengan santai menjawab arah tujuan saya. Orang yang mengikuti saya terus bertanya kepada saya dan mengajak saya naik ke busnya, tetapi saya tetap bersikeras untuk tidak ikut orang itu. Volume suara orang itu terus meningkat dan kesan memaksanya semakin menjadi jadi namun saya tetap tidak mau. dan kemudian datang seorang lagi dengan gaya yang sama orang itu juga mengajak ku untuk ke bisnya dengan memaksa. Tanpa saya sadari saya sudah tertinggal rombongan bus tadi dan orang itu terus memaksa dengan membentak bentak, saya juga tidak tinggal diam dan juga menailan suara saya saat itu (jujur saat itu saya sangat  takut). beberapa saat kemudian ada rombongan bus lainnya, dan kedua orang itu pun pergi meninggalkan saya dan menuju rombongan bis yang baru turun. Karena curiga saya pun mengecek dompet saya dan seperti dugaan saya dompet saya telah raib.

Saya yakin 2 orang itulah yang mencopet dompet saya. saya berpikir keras bagaimana agar dompet saya dapat kembali ketangan saya. saya melihat orang sekitar apakah ada polisi yang dapat membantu saya ternyata tidak ada, saya juga melihat fisik penumpang lain yang tidak begitu meyakinkan kalau kalau perlu berkelahi, ternyata cuma ada satu orang laki laki bertubuh besar dan lainnya yaaa tidak begitu meyakinkan dan bisa saja dua orang target saya punya teman lain lagi jadi saya simpulkan akan berbahaya jika saya teriakin dua orang itu, dan saya pikir dua orang itu pasti dengan mudah akan kabur dompet saya pun pasti hilang kalau begitu.

Setelah melihat keadaan saya pun mendekat ke salah satu copet itu dan membaur bersama penumpang lainnya. eh malah di deketen lagi sama copet tadi sambil terus memaksa naik bis nya. Saya rasa dia tadi terlalu fokus mencari dompet saya sehingga lupa dengan saya yang ia copet tadi.  beberapa menit kemudian saya bilang ke pencopet itu bahwa saya baru saja kecopetan. dia terkejut sambil melihat saya dia terdiam sejenak dan kemudian bertanya perlahan jumlah uang yang hilang bersama dompet saya itu sambil menghiring saya ketempat yang tidak begitu ramai. “duit di dompet itu banyak tidak?”. saya berusaha menampilkan wajah setenang mungkin dan sedikit sedikit menampilkan wajah sedih tanpa menghakimi bahwa orang yang dihadapan saya sang pencopet saya pun bilang ” eeenggak banyak si bang, paling 100 atau 200an lah, tapi mas yang paling penting itu kartu kartu saya mas.” pembicaraan pun berlangsung beberapa saat saya lupa poin poinnya, intinya saya lihat orang itu mulai iba kepada saya. kemudian ia menyuruh saya menunggu sebentar dan dan dia pergi menemui rekannya. dari kejauhan kulihat mereka sedikit berdebat, dan beberapa saat kemudian mereka datang dan berkata pada saya

orang yang berbicara pada saya tadi mulai menemui saya lagi bersama rekannya dan berdiskusi dengan saya, yang intinya sya mengharapkan dompet saya kembali bukan “sedikit duit” didalammya, yah karena dari dulu saya memang memiliki kebiasaan tidak menaruh uang saya di satu tempat dan cenderung menyebarnya, di beberapa kantong baju maupun celana di tas, bahkan pernah di kaos kaki dan dalaman hahaha. setelah beberapa diskusi akhirnya salah satu dari mereka berkata. “oke kamu ikut kami saja ke bus kami,” eh saya bingung dan takut dengan ajakan mereka, karena mereka tetap saja memaksa saya untuk naik bus mereka. mereka pun menaiki pergi mengambil 2 motor dan salah satunya menghampiri saya, sambil memaksa saya naik sambil berdalih akan membawa saya naik bus mereka.

“udah saya jamin kamu selamat, bismilah saja” kata mereka karena tahu saya sangat takut saat itu. dalah satu temannya yang tafi menghampiri kami dengan motornya sambil berkata. “dia bosnya, kamu pasti aman”

perlahan ku naik ke motor orang itu. jujur saya sangat takut tapi saya berusaha tenang sambil terus menanggapi pertanyaan orang yang membonceng saya. dia pun menengok kebelakang dan tidak melihat rekannya, sambil marah marah ia pun berbalik arah dan dari pintu keluar terminal akhirnya muncul rekannya yang tadi dan berhenti di jalan.

Saya mengamati sekitar saya, begitu sepi, hanya ada satu bus yang lewat dan ku lihat kernetnya tidak peduli sedikitpun aktifitas kami. Saya menyadari bahwa saya sekarang dalam keadaan yang sangat berbahaya, tapi saya juga sadar bahwa kepanikan justru akan membawa saya ke situasi yang lebih berbahaya.

Mereka dengan paksa menyuruh saya duduk di sebuah dinding taman di trotoar. ntah karena begitu ketakutan saya tidak dapat menngingat dengan jelas pembicaraan kami. mereka sangat sering bertanya untuk mengorek informasi asal saya dan arah tujuan saya berkali kali. Saya jawab dengan berusaha tidak terlihat panik namun gagal, yang ada mungkin hanya wajah memelas dan ketakutan yang saya tampilkan, namun suara saya madih jelas menjawab dan menanggapi pertanyaan dan intimidasi dari mereka. kemudian mereka pergi lagi dan berdiskusi.

Salah satu dari mereka menghampiri saya sambil menunjukan dompet saya dan berkata. “teman saya entah bagaimana tadi menemukan dompet ini jatuh, apa ini punya mu?” saya tidak percaya perkataan mereka, tapi saya berusaha untuk pura-pura percaya dan ikuti permainan drama mereka sambil kaget kuraih dompet itu, dan kudapati ada selembar 100rb di sana. ku sejenak berpikir ada berapa duit yang saya miliki di kantung dan tempat lainnya dan saya rasa cukup lah untuk pulang. saya juga berpikir ada berapa sebenarnya uang saya yang hilang bersama dompet tadi, mungkin sebenarnya ada 300rb, dan 200rb pasti sudah diambil pencopet itu. mereka terus berbicara ntah tentang apa sambil beberapa kali menyelipkan kata “eheem paham kan maksud saya”  ( mereka minta duit terimakasih)

Saya perlahan mengeluarkan 100rb itu dan memberi mereka seolah memberi uang terimakasih karena menemukan dompet saya. Dalam pikiran saya, saat ini situasi tidak menguntungkan, dan paling penting adalah beberapa kartu yang ada di dompet itu, soal ongkos pulang dll madih ada uang di saku lainnya. saya pun tidak mau mengambil risiko dengan mengeluarkan uang dari saku lain. saat uang itu saya berikan salah satu dari mereka bertanya pada saya “apa ini?” saya jawab “uang terimakasih karena dah nemuin dompet saya” oke saat itu saya juga dalam hati mengaku kalah karena saya lengah dompet itu berhasil mereka ambil, saya juga menghargai niat baik mereka untuk mengembalikan dompet saya, lain kali saya akan lebih berhati hati.

“kamu iklas kan?” mereka menanyakan hal yang menurut saya sangat bodoh untuk ditanyakan. sayapun dengan bodohnya menjawab “hehehe iklas” saya pun diajak toss dengan orang itu dan salah satu dari mereka mengajakku naik motornya untuk diantar ke dekat pelabuhan. sambil jalan kami sempat berbincang bincang sedikit. ku g peduli dan bodo amat lah, dia bilang juga suku bali n namanya arya made siapa gitu, ahh itu pasti boong dan dia bilang coba saya tadi bilang kalo saya tu orang bali padsti blablablabla saya g terlalu mikirin kata kata dia tapi tetep jawab sekenanya. kemudian saya diturunkan di dekat pelabuhan merak, dengan santai dia berkata “hati hati ya bro, kalo ada apa apa calling aja saya, kita kan sodaraa, punya nomor ku g? mau nomorku” ku bengong n takut hp saya juga di copet, tapi sukurlah hp saya masih ada di kantong saya. saya tidak mau ambil resiko untuk mengeluarkan hap say. saya hanya tersenyum keorang tadi dan menjawab “hehehe enggak lah” dan pergi menuju pelabuhan.

image

selalu berhati hati di sarana umum

Sekian cerita dari saya  tentang kejadian kemarin. Saya menceritakan ini kedalam blog saya sekedar untuk berbagi pengalaman, mungkin ada diantara kalian yang mengalami hal serupa, yah meskipun kehilangan beberapa duit saya tapi setidaknya saya bersyukur saya selamat dan dompet saya juga dapat kembali. ada 3 poin pelajaran penting yang saya dapat saat itu yakni (1. jangan sombong dan lengah; 2. berpirkir sebelum bertindak, 3.  meski sedikit, kebaikan selalu ada di setiap orang biar penjahat sekalipun)
sekian dari saya pada posting saat ini. semoga bermanfaat dan akhirkata saya ucapkan terimakasih

salam
dewa putu am

Advertisements

About dewa putu am

I'm a agro meteorologist. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe I like studying too hehehe but I lie.

Discussion

6 thoughts on “cerita pencopet yang masih baik hati

  1. Untung Gan gak kenapa-napa… itu jadi pengalaman yg sangat berharga.

    Posted by So Chen | April 6, 2016, 5:54 am
  2. walah..klo aku pasti dah pasrah duluan..hiks.. semoga lain kali lebih berhati-hati ya..

    Posted by mechtadeera | April 7, 2016, 7:29 pm
  3. Seenggaknya pernah dicopet dan bersyukurlah wahai kamu. Gw nggak pernah dicopet. Gw kadang suka nyadar apa pula yg kudu dicopet dari gw??? Wkwkwk

    Posted by finadamayanthi | August 3, 2016, 9:50 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IdWordpress
Warung Blogger

Blogger Hebat

Posting2 si Anak Angin

%d bloggers like this: