>>
you're reading...
ceritaku, mini novel

Ini cerita [Filosopi Upil]

Filosopi Upil

Ada suatu cerita di dunia antah berantah, tentang seorang anak kecil yang sedang berkelahi dengan temannya. Penyulut pertengkaran itu kecil. Kecil dalam arti sebenarnya. Perkelahian mereka disulut oleh benda kecil yang biasa disebut “Upil”. Konon cerita anak kecil bernama Agil membagikan barang kecil miliknya itu ke baju ketemannya yang bernama Fadil dan perkelahian pun terjadi begitu saja dan semakin membesar. Angga yang sedang kebetulan lewat pun ikut ikut berkelahi karena melihat temannya (Agil) sedang di gebuk fadil. Angga tahu bahwa Agil adalah orang yang baik dan selalu menyebar kebaikan bagi semua orang disekitarnya jadi ia tahu bahwa Agil tidak mungkin salah. Melihat Fadil di keroyok Angga dan Agil, Unang pun membantu fadil. Perkelahian semakin lama berkembang menjadi perkelahian yang semakin massif. Salman, Abas, Agus, Sandi, Sintong, Agung, Mustofa, Putu, Rahman, Eko, Wahyu dan Andrew pun ikut terlibat dalam perkelahian. Kian lama masalah semakin besar dan semakin kompleks, masalah kecil yang memicu perkelahian itu pun kian lama kian kabur tak berwujud dan mongering kemudian bsah lagi dengan keringat, kering lagi dan kemudian basah lagi dan menghitam bercampur debu pertempuran.

Kian kering dan mengeras, kemudian terpental oleh hantaman Andrew. Menempel di punggung Salman, kemudian terhempas lagi karena tendangan Agus dan basah oleh keringat leher Sandi. Terkena debu dan mengeras kembali dan kemudian melayang bersama serasah daun dari pohon eek tetapi kemudian menempel di lengan Putu dan terbasahi oleh keringat kembali. Kemudian kering dan melayang, melayang perlahan namun pasti kembali ke lubang hidung Agil yang sedang terkapar menahan sakit.

Sejenak Agil berpikir….. “Apa salahnya dia, ketika mengupil tadi dia merasakan kenikmatan yang begitu hebat. Ia berpikir bahwa ia tidak boleh egois dan harus membagi kenikmatan itu ke teman nya (Fadil). Namun Fadil memberontak dan marah dan upil pun tak sengaja tertempel di baju Fadil.

Ditengah pertempuran teman temannya yang sengit Agil pun berujar dalam hati dan pikirannya. “Ternyata apa yang menurutnya baik, belum tentu baik untuk temannya.” Sambil berpikir tentang filosopi upil itu Agil berjalan perlahan pulang menuju rumahnya untuk mandi dan berbersih diri, makan kemudian berjalan jalan sore sejenak.

Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Fadil yang juga ternyata sudah berbersih diri, Agil pun minta maaf kepada Fadil. Mereka berdua pun kembali bermain kelereng bersama. tetapi saat ingin bermain di lapangan mereka melihat teman teman mereka (Angga, Unang, Salman, Abas, Agus, Sandi, Sintong, Agung, Mustofa, Putu, Rahman, Eko, Wahyu dan Andrew) sedang berkelahi dengan sengitnya. Agil dan Fadil terheran heran apa yang sedang teman temannya ributkan hingga berkelahi sesengit itu,.. tapi Karena malas mengganggu perkelahian mereka, Agil dan Fadil pun main kelereng di tempat lain.

Advertisements

About dewa putu am

I'm a agro meteorologist. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe I like studying too hehehe but I lie.

Discussion

2 thoughts on “Ini cerita [Filosopi Upil]

  1. Kayak politik aja. Permainan orang-orang besar.

    Posted by shiq4 | May 13, 2017, 12:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IdWordpress
Warung Blogger

Blogger Hebat

Posting2 si Anak Angin

%d bloggers like this: